Wednesday, November 19, 2014

70000 Langkah per Minggu? Harus Bisa!

Sekitar tahun 2010-2011, itu adalah masa kejayaan gw dalam urusan kebugaran.
Gw masih rajin ngegym di Celfit, ataupun rutin berenang 2-3 kali per minggu.

Memasuki tahun 2012, gw mulai memasuki periode kemalasan.

Puncaknya adalah 2013, ketika gw menikah dan hamil, itu bentuk badan gw sudah di luar kendali.
Bahkan setelah melahirkan, dari total 14 kg kenaikan, berat badan gw hanya turun 6 kg, alias gw masih berhutang 8 kg. Terasa lebih buruk lagi karena di luar 8 kg itu pun, sebenarnya gw masih berhutang 8 kg dibandingkan ketika sedang di masa kejayaan.

Mimpi buruk?
Tentunya lah ya..
Baju tidak muat itu cuman efek samping. Gw lebih ga demen ngeliat perubahan bentuk gw jadi seperti tumpukan lemak berjalan.

Semakin memperburuk keadaan adalah nafsu makan gw tidak terkendali ketika sekitar 4-5 bulan pasca melahirkan. Bukannya mengurus, gw malah semakin menggemuk, melebihi ketika hamil.
Sampai-sampai ya, gw pun malah dikira sedang hamil (lagi) T_T...

Itulah saatnya gw memutuskan, saatnya harus berubah.
Pergi ke gym atau ke kolam renang bukanlah hal yang mudah gw lakukan seperti dulu.
Jadinya opsi yang ada buat gw adalah berolahraga di rumah atau paling jauh di sekitar rumah.
Itu pun harus memikirkan bagaimana supaya tidak mengurangi waktu bersama anak.

Jadi, gw memilih untuk jalan pagi di sekitar rumah dan beryoga...
Kenapa jalan pagi? Soalnya biar sekalian memperkenalkan Oce ke kebiasaan berjalan kaki, sambil menjemur Oce biar kena matahari dan udara segar di pagi hari plus ya kapan lagi menikmati waktu sama anak secara 9 jam di kantor? (Sekali jalan, sekian tujuan tercapai, hidup multitasking!)

Good morning sunshine!

Soal yoga bakal gw bahas lain kali :P

Secara gw orang yang "rada-rada" demen mengukur sesuatu, tentunya mesti punya alat ukur dong...So, saatnya bongkar lemari untuk nyari Fitbit Ultra yang dibeli pas tahun 2012 dulu...
Oh ya, buat yang belum tau Fitbit itu apa, bisa dilihat di sini ya...
Ultra itu salah satu produk generasi pertamanya Fitbit (dan buatan Indonesia lho yang Ultra ini)..
Lumayan, masih nyala ternyata....
Tapi, 2 hari kemudian mati gitu... soft reset, hard reset, semua kagak ada yang mempan...

Terus iseng-iseng coba ngemail ke Fitbit Support, sapa tau masih ada cara untuk ngehidupin si Fitbit Ultra ini..
Apa daya, setelah melakukan semua step yang dijabarkan Fitbit Support, sang Ultra tetap tidak mau hidup... hiks hiks...
Surprise nya adalah ketika Fitbit Support meminta bukti pembelian Fitbit Ultra untuk kemudian menawarkan replacement unit dengan Fitbit One...

Gw surprise karena:

  1. gw membeli Fitbit Ultra pada tahun 2012...artinya sudah lewat masa garansi yang hanya 1 tahun
  2. Fitbit Ultra itu dibeli di ebay, alias tidak melalui dealer resmi, secara tidak ada dealer resmi Fitbit di Indonesia dan dealer resmi di negara lain tidak melayani pengiriman ke Indonesia
Singkat kata, setelah beberapa kali berkirim email dan menemukan orang yang bisa ditebengin alamat pengiriman di US (dan tentunya membawa ke Indonesia), akhirnya jreng jreng, inilah si Fitbit One di samping pendahulunya.


(left) Fitbit Ultra (right) Fitbit One
Fibit One punya 2 pilihan warna, Black dan Burgundy.
Secara Ultra dulu sudah yang Black-Blue, jadi kemarin gw mintanya yang Burgundy saja...

Secara alasan gw memakai Fitbit ini adalah untuk mengukur, mari coba kita lihat bagaimana hasil pengukurannya... Ini tampilan dari Fitbit dashboard yang ada bisa dilihat di desktop.

sebanyak apakah gw melangkah?


Yang dilingkari merah itu setelah gw memakai Fitbit selama hampir 24 jam tiap hari (tentunya pas mandi dilepas lah ya).
Pas gw belum make Fitbit, jumlah langkahnya hanya bisa diukur dari total lama aktivitas yang gw ukur dengan Runkeeper.

Kalau yang ada di aplikasi android, tampilannya seperti ini:

Fitbit Dashboard - Android
Setelah mengamati hasil pengukuran Fitbit selama hampir 2 minggu, gw berkesimpulan klo kerjaan gw cuma duduk di kantor, atau berhibernasi kala wiken, bisa dibilang pola pergerakan gw sekarang itu sangat sedentary. Ga usah heran kalau badan gw sampai ngegelembung gara-gara malas bergerak.
Soalnya dengan gw jalan pagi bersama Oce selama 50 menit saja, itu baru bisa nyampe target berjalan 10000 langkah per hari.

Saat ini sih, kalau secara progress, gw masih di batas terendah obesitas dalam skala BMI.. (yes, gw sampai jadi segendut itu).. tapi dibandingkan berat badan gw 5 bulan yang lalu, berat gw udah turun hampir 8 kg :D
perjalanan masih panjang, tapi gw yakin pasti bisa.. Semangat :D

Friday, August 22, 2014

Attending a Timor Wedding

(Two weeks ago) At October 2013, me and my husband got an opportunity to attend our friend's wedding at Kupang, NTT.
* sadly, I lost my pocket cam. This posting was delayed due to my maternity leave and my attempt to search my pocket cam. Unfortunately, until this day, my camera is still missing. :(
I found my camera! :D


The groom-to-be is Javanese and the bride-to-be is Timorese.
The tradition to be used is Timor tradition with a little bit touch of Javanese.

For your information, the process itself had begun since last year with a "Peminangan".
Unfortunately, I didn't attend this procession, so what I wrote in this post is what I saw during the procession in Kupang.

The groom-to-be is my husband's best friend. So we were included into the groom-to-be group.
The groom-to-be family has to prepared "Belis" to be given to the bride-to-be family.
The Belis consists of:

  • Uang air susu: money given to the family as an exchange of raising the daughter from baby until now
  • Uang AIUW (I forgot to ask how to write it) or Uang Kayu: money given to the family as a thank you for the family who help to organize the wedding
  • Silver coins
  • Toiletries
  • Jenang


The groom-to-be group has to come to the bride-to-be's home at 5 PM. No more or less.
Someone from the bride-to-be family will welcome the group at the front door.
They said some greeting in Timor language and then the groom-to-be groups had to answer "Eeeee".
Then the groom-to-be groups were allowed to enter the house.

In the house,the bride-to-be group served the groom-to-be group with "Sirih-Pinang".
After that, they served "Air Hangat" alias hot tea.
The spoke person from the bride-to-be group will give an opening speech and asking about the "Penyelesaian Secara Adat" (traditional term of agreement) which has been agreed during the "Peminangan".
Until this time, no one from the groom-to-be group is allowed to speak.
The bride-to-be group will check the Belis brought up.
Three person have to check the Belis. One from the grandparent generation, one from the parent generation, and one from the bride-to-be generation.
If the contain of Belis match what have been agreed during the "Peminangan" then the spokeperson from the groom-to-be group will be allowed to talk.
If not, then the groom-to-be group have to go back and trying to fulfill the requirement.

The spoke person from the groom-to-be spoke about the gratitude of being welcomed by the bride-to-be family then the spoke person from the bride-to-be group replied the speech.
At this moment, the groom-to-be is welcomed as "anak-mantu" (son in law).
The bride-to-be group exchanged the Belis with two (2) sheets of fabric, one bag of rice and one pig (if the groom-to-be is Catholic or Christian, if moslem the pig could be swapped with a goat).

The next procession was "Searching the Bride".
The spoke person from the bride-to-be asked the groom-to-be to search the bride-to-be in the house.
During the process, a pantun was read by the spokeperson from the bride-to-be group:
Pelan-pelan, hati-hati.. (Slowly, be careful)
Jangan sampai tersandung (Don't slip away)
Itulah calon istrimu, jagalah dia kapan pun (That's your future wife, take care of her anytime)
Why do they have this pantun? Since if the groom-to-be choose the wrong girl, his family will be punished with a fee. It could be a long negotiation again to discuss the punishment.
After the searching process was over, the procession was followed by prayer.

Javanese vs Timor 


For the mass, it was an usual Roman Catholic's wedding mass.
What is unique is the entrance procession and the sitting position. The entrance procession used Timor music and dancer to accompany the bride and the groom.
For the sitting position, usually it is only the bride and the groom whom sit at the front of the altar.
In Timor, the witnesses also sat beside them.
It is a symbol that the witnesses also have a responsibility to be patron of the bride and the groom.

For the reception, wedding reception in Timor used seating dinner system.
The guest are seated in several tables. On each table, drinks, ice and cakes were prepared.
Then the reception began with opening speech followed by wedding cake's cutting.
After that the guess were allowed to take the dinner (buffet system), the sequence was arranged by usher.

After the dinner, it's dancing time!
The first dance is polonaise.
I was surprised to know that the polonaise's song is "Potong Bebek Angsa".
Do you know about this song?

Potong bebek angsa, angsa di kuali (Cut the duck and the swan, put the swan in the wok)
Nona minta dansa, dansa empat kali (The lady is asking for a dance, and dance four times)
Sorong ke kiri, sorong ke kanan, (move to the left, move to the right)
lalalalalalala (lalalalalala)

It's a famous children song in Indonesia. And honestly, I always think that the lyric of this song is a quite sadistic even the melody is cheerful. That's why I'm surprised.
But it didn't stop the people to enjoy the polonaise.

After the polonaise, it's the time for traditional Timor dance, known as tebe-tebe.
People are standing in a circle formation, then they grab each other arm. The dancing is following some pattern for the feet's movement.
Actually it's a very interesting dance. (I have the video, and I'll update this post later).

They would dance all night long.
But for me, it's the time to go back to the hotel. :)

I would like to thank you Victor and Putri for the opportunity to watch their wedding's procession.
Hope both you will enjoy marriage life and God bless you :)


*disclaimer: if there is any correction regarding the Timor's custom, I would gladly accept any comment



Thursday, January 23, 2014

Dalam Penantian..

Hari ini tanggal 23 Januari... yang berarti hari ini usia kehamilan gw menginjak w38d5..
hal yang juga berarti dalam beberapa hari ke depan kemungkinan gw akan melahirkan seorang anak..
Kadang gw masih sulit percaya hal itu, terlebih kalau mengingat gw ini tipe cuek bebek..
Gw bukan tipe yang telaten, juga bukan tipe yang dekat ama anak kecil..

walaupun begitu, sejak momen 2 garis pink, gw tahu kalau gw akan menyayangi makhluk mungil ini..
Untunglah keberadaan suami, keluarga beserta teman-teman yang selalu mendukung membuat gw kuat selama menjalani masa kehamilan (yang tidak mudah) ini..
Gw ga akan lupa rasanya mual sepanjang hari selama 3 bulan, sekian kali isi perut keluar. Juga ga akan lupa rasanya menjadi oon karena tampaknya kapabilitas otak gw diserap.
Juga ga kan lupa masa ketika duduk, jalan, berdiri, tidur menjadi hal yang sulit dilakukan karena sakit pinggang.
Atau ketika pandangan berkunang-kunang plus sesak nafas, namun untungnya selalu ketangkap suami sebelum collapse.
Atau masa ketika gw harus merelakan kesempatan bagus untuk karir gw karena gw ga mungkin pergi keluar negeri selama 2-3 bulan dalam kondisi hamil..
Atau masa ketika perut gw mesti disuntik tiap hari demi memastikan asupan gizi sang bayi bagus..

Tapi rasanya semua hal itu sebanding dengan senyuman jahil yang tampak kala kontrol rutin.
errr... ini mungkin agak aneh sih, tapi sang bayi ini memang rada jahil.. lebih dari 3x pas USG, dia yang tadinya cemberut atau lempeng, bisa tiba-tiba tersenyum nyengir ^^!
Bener-bener bikin gemes.. :))

Sekarang, gw hanya berharap semoga sang makhluk mungil ini mau menunggu bapaknya menyeberangi lautan sebelum dia menarik nafas pertamanya di dunia..

Sabar ya nak, kami menantimu...

God bless u my daughter..

Thursday, December 19, 2013

How To: Mengurus Pemindahan Meteran Listrik

Ketika melakukan renovasi rumah kemarin, saya dan suami meminta tembok fasad depan dimundurkan sekitar 1.5 meter.
Otomatis, meteran listrik harus dipindah juga.
Sebenarnya sih ada tetangga yang menawarkan jasa pemindahan meteran itu, tapi daripada nanti ada kenapa-kenapa dengan segelnya yang malah bisa membuat kami terkena denda, maka kami memutuskan untuk menghubungi PLN.

Prosedurnya:
  1. Lakukan pembayaran tagihan bulan berjalan terlebih dahulu.
  2. Hubungi 123, sebutkan nama Anda
  3. Sebutkan layanan yang diinginkan, dalam hal ini Pindah Meter
  4. Sebutkan nomor pelanggan, lokasi, kemudian juga nomor KTP dan telpon akan dicatat.
  5. PLN akan memberikan nomor registrasi layanan dan memberitahukan PLN cabang mana yang akan bertanggung jawab.
  6. Petugas akan melakukan survey ke lapangan. ( Dalam hal ini, petugas datang ke rumah kami berselang 3 hari kerja. Sebenarnya 2 hari kerja sih, tapi petugasnya kesulitan menemukan rumah kami, jadi baru kembali lagi esok harinya.)
  7. Selesai survey, petugas akan memberikan 1 slip bewarna biru berisi rincian perkiraan biaya pekerjaan dan material. 
  8. Lembaran biru tersebut dibawa ke PLN cabang seperti yang disebutkan di nomor 5.
  9. Lampirkan fotokopi KTP, dan lakukan pembayaran untuk jasa pemindahan dan biaya material. (Detail per SoW disebutkan dengan cukup jelas di bukti pembayaran)
  10. Tunggu 3-10 hari kerja hingga petugas datang.

Total biaya yang keluar: sekitar 500k


Terlampir:
-slip berwarna biru yang diberikan pasca survey
- bukti pembayaran


Semoga bisa membantu :)


Thursday, November 28, 2013

Jangan jadi Pasien Sotoy ah!

Tau kan sotoy itu apa?
Orang yang sotoy tentunya pasti tahu apa itu sotoy, hehehe.
Ini cuman sekedar melanjutkan postingan gw yang tentang Tenggelam Dalam Informasi .

Kebenaran beberapa hari ini kan emang lagi pada heboh ngomongin soal aksi mogok dokter.
Beberapa hari ini, gw banyak berbincang-bincang dengan mertua gw yang sedang berkunjung ke Jakarta dalam rangka 7 bulanan kehamilan gw.

Nah mertua gw bukan dokter sih, tapi seorang pensiunan kepala bidan di salah satu RSIA. Jadi ya lumayan banyak tahu mengenai dunia medis.
Kebetulan lagi, nyokap gw sendiri juga eks bidan dan perawat.
Jadi bisa dibilang sedari gw kecil hingga sekarang, kalau gw sakit atau apa, gw bisa dapat saran dan perawatan gratis dari orang yang pernah mempelajari ilmu medis.

Gimana pun juga, berada dekat dengan orang-orang tersebut, itu membuat gw mungkin cukup paham kalau yang namanya ilmu pengetahuan (di bidang apa pun), bukanlah sesuatu yang mudah diperoleh. Yang namanya teori kalau tidak dibekali dengan pengalaman, tentunya tidak akan berguna dalam kehidupan nyata.
Sikap dan tindakan seseorang yang dulunya setiap hari terbiasa melihat kasus begini-begitu dan harus bisa memberi saran dan tindakan, tentunya berbeda dengan pengetahuan orang awam yang mungkin cuman sekedar membaca saja.

Makanya, sejujurnya gw merasa sangat terusik ketika di era "just ask google" ini, muncul fenomena pasien dan keluarga pasien yang "sotoy".
Apa sebenarnya itu?
Saking banyaknya informasi yang bisa tersedia apabila kita mengklik suatu search engine, kadang kita merasa "Gw mencari info tentang topik ABC, kemudian google menunjukkan ada A, B, C, D, E, F, G, sampe Z. Gw baca A sampe Z itu, artinya gw sudah memahami."
Salah.

Gw mencoba membuka beberapa web berisikan informasi kesehatan dan membuka "Terms and Condition" dari web-web tersebut.
Yang muncul adalah:
*** provides medical information for use as information or for educational purposes. We do not warrant that information we provide will meet your health or medical requirements. It is up to you to contact a health professional if you are concerned about your health.
*** does not give medical advice in relation to any individual case or patient, nor does *** provide medical or diagnostic services. 
If you are a medical or health professional then you are encouraged to use *** for general information purposes.  However, you should not rely on material included on *** and we do not accept any responsibility if you do.
atau:
The contents of the ***, such as text, graphics, images, information obtained from ***'s licensors, and other material contained on the *** Site ("Content") are for informational purposes only. The Content is not intended to be a substitute for professional medical advice, diagnosis, or treatment. Always seek the advice of your physician or other qualified health provider with any questions you may have regarding a medical condition. Never disregard professional medical advice or delay in seeking it because of something you have read on the *** Site!
atau:
THE CONTENT AVAILABLE VIA THE WEB SITE IS PROVIDED WITH THE UNDERSTANDING THAT NEITHER *** NOR ITS SUPPLIERS OR USERS ARE ENGAGED IN RENDERING MEDICAL, COUNSELING, LEGAL, OR OTHER PROFESSIONAL SERVICES OR ADVICE.
SUCH CONTENT IS INTENDED SOLELY AS A GENERAL EDUCATIONAL AID. IT IS NOT INTENDED AS MEDICAL OR HEALTHCARE ADVICE, OR TO BE USED FOR MEDICAL DIAGNOSIS OR TREATMENT, FOR ANY INDIVIDUAL PROBLEM. IT IS ALSO NOT INTENDED AS A SUBSTITUTE FOR PROFESSIONAL ADVICE AND SERVICES FROM A QUALIFIED HEALTHCARE PROVIDER FAMILIAR WITH YOUR UNIQUE FACTS. ALWAYS SEEK THE ADVICE OF YOUR PHYSICIAN OR OTHER QUALIFIED HEALTHCARE PROVIDER REGARDING ANY MEDICAL CONDITION AND BEFORE STARTING ANY NEW TREATMENT.
atau
While some of the information on this site is about medical issues, it is not medical advice and should not be construed as such. If you are concerned about your health or your child's health, contact your health care provider and/or seek medical care immediately.

*gw copas T&C dari beberapa website yang seringsekali dijadikan referensi oleh orang awam.

Berapa banyak orang yang benar-benar memahami arti T&C yang tertulis di situ?
Coba saja tanyakan ke diri Anda sendiri.

Kembali ke perbincangan gw dengan ibu mertua.
Beliau bercerita, saat ini sulit sekali buat tenaga medis untuk mencoba memberikan penjelasan atas saran dan tindakan yang mereka lakukan.
Sebabnya ya itu, banyak pasien atau pun keluarga pasien yang membekali diri dengan terlalu banyak informasi (terutama dari internet) dan bersikap sotoy.
Masih mendingan kalau informasinya diambil dari web-web organisasi kesehatan. Kalau hanya berdasarkan opini di forum? Menurut gw pribadi, apa yang ditulis orang di forum itu bersifat subjektif berdasarkan pengalaman pribadi yang belum tentu cocok untuk setiap orang.
Gampangnya begini deh, misal ada 2 orang yang menampakkan gejala yang mirip, tapi bisa saja sebenarnya penyebabnya bisa 2 hal yang berbeda. Kita sebagai orang awam tidak terlatih untuk menganalisa sedalam itu. Bahkan tenaga medis pun membutuhkan hal yang namanya wawancara dengan pasien dan pemeriksaan fisik (plus mungkin pemeriksaan lab) sebelum dapat memberikan prognosis.

Bersikap kritis itu perlu. Tapi bedakanlah antara kritis dan sotoy.
Kalau memang Anda merasa lebih tahu dari para tenaga medis, lalu mengapa Anda datang ke mereka?

Jadilah pasien yang cerdas dan kritis, tapi jangan sotoy ya...

Friday, November 22, 2013

Ironi Sang Paspor yang Miskin Cap

Sekitar awal Oktober 2010, gw memperpanjang paspor gw.
Benernya sih paspor gw itu baru bakalan expired akhir April 2011, tapi secara gw ada plan untuk ngetrip ke Hanoi di awal November, jadinya gw perlu memperpanjang itu paspor daripada ntar kejadian gw ketahan di bandara karena masa berlaku kurang dari 6 bulan.

Entah kenapa, begitu sang paspor baru ini kelar, dimulai lah rentetan "tidak berjodoh dengan luar negeri"

Tentu saja dimulai dari trip Hanoi itu tuh...
Gw udah megang tiket, tapi karena urusan kerjaan alias meeting besar tahunan, gw terpaksa membatalkan trip itu. (Paling ga tiket pesawat gw diganti duit tunai ama si boss)

Tahun 2012, gw ditawarin training ke Manila ama pak boss. Gw udah senyam-senyum senang, sampe gw ngeliat judul materi training nya. Itu kan yang baru bulan lalu ada training lokal di Jakarta?
Pas memeriksa detail material, aduh, positif sama 100%! Trainernya pun sama pula.
Setelah bergumul antara keinginan ingin pergi versus kejujuran itu penting, akhirnya gw memutuskan kalau kejujuran gw kagak bisa dibeli biarpun gw mupeng ke Manila. So bye bye..

Tahun 2013, gw ditawarin on job training di Thailand. Kali ini gw kagak sempet senyum-senyum, udah langsung mengkerut di kursi. Kenapa? 
Tentunya karena gw tahu kalau gw ga mungkin pergi karena gw sedang hamil.
Apalagi pas trimester 1 itu kehamilan gw mayan bikin senewen karena mual-mual ga keruan.
Biarpun berangkatnya pas trimester 2, tapi gw tau ga mungkin suami gw setuju, dan gw juga ogah membayangkan lagi hamil dengan perut membesar sendirian di negeri orang yang bahasanya pun gw ga mudeng. So bye bye..

Belum juga sampe gw kelar hamil, sekarang gantian gw ngedengerin orang-orang pada mo meeting besar di Batam (baca sebagai batu lompatan ke Singapore)
Ah? setelah bertahun-tahun gembor-gembor mo meeting besar di A, di B, di C, tapi ujung-ujungnya selalu balik ke gedung tercinta di Gatsu itu, sekarang mereka malah beneran berangkat ke Batam?
Tepok jidat lagi deh gw, secara gw kan lagi digrounded di Jakarta. So bye bye..

Nah....
sebenarnya yang lucu adalah ironi sang paspor yang miskin cap ini juga menular antara gw dan suami gw.
Jadi sebelum kita berdua officially barengan, dia juga tipe yang udah sempet mengisi paspornya.
Tapi begitu kita jadian (sampe sekarang nikah), rezeki buat mengisi cap di paspor langsung seret abis.

Dia ditawarin ke Swedia, tapi ga mau ngambil karena terlalu mepet sebelum nikah.
Dia ditawarin ke Italia, tapi ga mau ngambil karena terlalu mepet setelah hanimun.
Dia ditawarin ke Hanoi, terus ke Doha, tapi ga mau ninggalin gw yang lagi hamil muda.

Tau-tau, minggu lalu dia ditawarin ke San Jose.
Tapiiiiiii..... kok tanggalnya itu, minus 2 minggu sebelum HPL nya anak kita berdua.
Itu kan dah masuk masa siaga?
Emang sih acaranya cuman 3 hari, tapi klo tau-tau sang bayi dah pingin nongol, ga lucu bener gw lagi mulas-mulas mo lahiran sementara oknum satunya ada di benua seberang?
Atau misal kebalikan... ternyata gw lahiran sebelum dia berangkat, ntar ga lucu juga dia kelop-kelop di bandara sendirian membayangkan istri dan anaknya yang baru lahir...

Jadi... tampaknya cerita ironi sang paspor yang miskin cap ini masih akan berlanjut sampai entah kapan...^_^!

Kalau kata adik gw sih, itu pertanda kalau gw ama suami disuruh mencintai dalam negeri dulu sebelum jalan-jalan di luar.
Benarkah?

Waktu yang akan menjawab, hehehe...