Thursday, December 19, 2013

How To: Mengurus Pemindahan Meteran Listrik

Ketika melakukan renovasi rumah kemarin, saya dan suami meminta tembok fasad depan dimundurkan sekitar 1.5 meter.
Otomatis, meteran listrik harus dipindah juga.
Sebenarnya sih ada tetangga yang menawarkan jasa pemindahan meteran itu, tapi daripada nanti ada kenapa-kenapa dengan segelnya yang malah bisa membuat kami terkena denda, maka kami memutuskan untuk menghubungi PLN.

Prosedurnya:
  1. Lakukan pembayaran tagihan bulan berjalan terlebih dahulu.
  2. Hubungi 123, sebutkan nama Anda
  3. Sebutkan layanan yang diinginkan, dalam hal ini Pindah Meter
  4. Sebutkan nomor pelanggan, lokasi, kemudian juga nomor KTP dan telpon akan dicatat.
  5. PLN akan memberikan nomor registrasi layanan dan memberitahukan PLN cabang mana yang akan bertanggung jawab.
  6. Petugas akan melakukan survey ke lapangan. ( Dalam hal ini, petugas datang ke rumah kami berselang 3 hari kerja. Sebenarnya 2 hari kerja sih, tapi petugasnya kesulitan menemukan rumah kami, jadi baru kembali lagi esok harinya.)
  7. Selesai survey, petugas akan memberikan 1 slip bewarna biru berisi rincian perkiraan biaya pekerjaan dan material. 
  8. Lembaran biru tersebut dibawa ke PLN cabang seperti yang disebutkan di nomor 5.
  9. Lampirkan fotokopi KTP, dan lakukan pembayaran untuk jasa pemindahan dan biaya material. (Detail per SoW disebutkan dengan cukup jelas di bukti pembayaran)
  10. Tunggu 3-10 hari kerja hingga petugas datang.

Total biaya yang keluar: sekitar 500k


Terlampir:
-slip berwarna biru yang diberikan pasca survey
- bukti pembayaran


Semoga bisa membantu :)


Thursday, November 28, 2013

Jangan jadi Pasien Sotoy ah!

Tau kan sotoy itu apa?
Orang yang sotoy tentunya pasti tahu apa itu sotoy, hehehe.
Ini cuman sekedar melanjutkan postingan gw yang tentang Tenggelam Dalam Informasi .

Kebenaran beberapa hari ini kan emang lagi pada heboh ngomongin soal aksi mogok dokter.
Beberapa hari ini, gw banyak berbincang-bincang dengan mertua gw yang sedang berkunjung ke Jakarta dalam rangka 7 bulanan kehamilan gw.

Nah mertua gw bukan dokter sih, tapi seorang pensiunan kepala bidan di salah satu RSIA. Jadi ya lumayan banyak tahu mengenai dunia medis.
Kebetulan lagi, nyokap gw sendiri juga eks bidan dan perawat.
Jadi bisa dibilang sedari gw kecil hingga sekarang, kalau gw sakit atau apa, gw bisa dapat saran dan perawatan gratis dari orang yang pernah mempelajari ilmu medis.

Gimana pun juga, berada dekat dengan orang-orang tersebut, itu membuat gw mungkin cukup paham kalau yang namanya ilmu pengetahuan (di bidang apa pun), bukanlah sesuatu yang mudah diperoleh. Yang namanya teori kalau tidak dibekali dengan pengalaman, tentunya tidak akan berguna dalam kehidupan nyata.
Sikap dan tindakan seseorang yang dulunya setiap hari terbiasa melihat kasus begini-begitu dan harus bisa memberi saran dan tindakan, tentunya berbeda dengan pengetahuan orang awam yang mungkin cuman sekedar membaca saja.

Makanya, sejujurnya gw merasa sangat terusik ketika di era "just ask google" ini, muncul fenomena pasien dan keluarga pasien yang "sotoy".
Apa sebenarnya itu?
Saking banyaknya informasi yang bisa tersedia apabila kita mengklik suatu search engine, kadang kita merasa "Gw mencari info tentang topik ABC, kemudian google menunjukkan ada A, B, C, D, E, F, G, sampe Z. Gw baca A sampe Z itu, artinya gw sudah memahami."
Salah.

Gw mencoba membuka beberapa web berisikan informasi kesehatan dan membuka "Terms and Condition" dari web-web tersebut.
Yang muncul adalah:
*** provides medical information for use as information or for educational purposes. We do not warrant that information we provide will meet your health or medical requirements. It is up to you to contact a health professional if you are concerned about your health.
*** does not give medical advice in relation to any individual case or patient, nor does *** provide medical or diagnostic services. 
If you are a medical or health professional then you are encouraged to use *** for general information purposes.  However, you should not rely on material included on *** and we do not accept any responsibility if you do.
atau:
The contents of the ***, such as text, graphics, images, information obtained from ***'s licensors, and other material contained on the *** Site ("Content") are for informational purposes only. The Content is not intended to be a substitute for professional medical advice, diagnosis, or treatment. Always seek the advice of your physician or other qualified health provider with any questions you may have regarding a medical condition. Never disregard professional medical advice or delay in seeking it because of something you have read on the *** Site!
atau:
THE CONTENT AVAILABLE VIA THE WEB SITE IS PROVIDED WITH THE UNDERSTANDING THAT NEITHER *** NOR ITS SUPPLIERS OR USERS ARE ENGAGED IN RENDERING MEDICAL, COUNSELING, LEGAL, OR OTHER PROFESSIONAL SERVICES OR ADVICE.
SUCH CONTENT IS INTENDED SOLELY AS A GENERAL EDUCATIONAL AID. IT IS NOT INTENDED AS MEDICAL OR HEALTHCARE ADVICE, OR TO BE USED FOR MEDICAL DIAGNOSIS OR TREATMENT, FOR ANY INDIVIDUAL PROBLEM. IT IS ALSO NOT INTENDED AS A SUBSTITUTE FOR PROFESSIONAL ADVICE AND SERVICES FROM A QUALIFIED HEALTHCARE PROVIDER FAMILIAR WITH YOUR UNIQUE FACTS. ALWAYS SEEK THE ADVICE OF YOUR PHYSICIAN OR OTHER QUALIFIED HEALTHCARE PROVIDER REGARDING ANY MEDICAL CONDITION AND BEFORE STARTING ANY NEW TREATMENT.
atau
While some of the information on this site is about medical issues, it is not medical advice and should not be construed as such. If you are concerned about your health or your child's health, contact your health care provider and/or seek medical care immediately.

*gw copas T&C dari beberapa website yang seringsekali dijadikan referensi oleh orang awam.

Berapa banyak orang yang benar-benar memahami arti T&C yang tertulis di situ?
Coba saja tanyakan ke diri Anda sendiri.

Kembali ke perbincangan gw dengan ibu mertua.
Beliau bercerita, saat ini sulit sekali buat tenaga medis untuk mencoba memberikan penjelasan atas saran dan tindakan yang mereka lakukan.
Sebabnya ya itu, banyak pasien atau pun keluarga pasien yang membekali diri dengan terlalu banyak informasi (terutama dari internet) dan bersikap sotoy.
Masih mendingan kalau informasinya diambil dari web-web organisasi kesehatan. Kalau hanya berdasarkan opini di forum? Menurut gw pribadi, apa yang ditulis orang di forum itu bersifat subjektif berdasarkan pengalaman pribadi yang belum tentu cocok untuk setiap orang.
Gampangnya begini deh, misal ada 2 orang yang menampakkan gejala yang mirip, tapi bisa saja sebenarnya penyebabnya bisa 2 hal yang berbeda. Kita sebagai orang awam tidak terlatih untuk menganalisa sedalam itu. Bahkan tenaga medis pun membutuhkan hal yang namanya wawancara dengan pasien dan pemeriksaan fisik (plus mungkin pemeriksaan lab) sebelum dapat memberikan prognosis.

Bersikap kritis itu perlu. Tapi bedakanlah antara kritis dan sotoy.
Kalau memang Anda merasa lebih tahu dari para tenaga medis, lalu mengapa Anda datang ke mereka?

Jadilah pasien yang cerdas dan kritis, tapi jangan sotoy ya...

Friday, November 22, 2013

Ironi Sang Paspor yang Miskin Cap

Sekitar awal Oktober 2010, gw memperpanjang paspor gw.
Benernya sih paspor gw itu baru bakalan expired akhir April 2011, tapi secara gw ada plan untuk ngetrip ke Hanoi di awal November, jadinya gw perlu memperpanjang itu paspor daripada ntar kejadian gw ketahan di bandara karena masa berlaku kurang dari 6 bulan.

Entah kenapa, begitu sang paspor baru ini kelar, dimulai lah rentetan "tidak berjodoh dengan luar negeri"

Tentu saja dimulai dari trip Hanoi itu tuh...
Gw udah megang tiket, tapi karena urusan kerjaan alias meeting besar tahunan, gw terpaksa membatalkan trip itu. (Paling ga tiket pesawat gw diganti duit tunai ama si boss)

Tahun 2012, gw ditawarin training ke Manila ama pak boss. Gw udah senyam-senyum senang, sampe gw ngeliat judul materi training nya. Itu kan yang baru bulan lalu ada training lokal di Jakarta?
Pas memeriksa detail material, aduh, positif sama 100%! Trainernya pun sama pula.
Setelah bergumul antara keinginan ingin pergi versus kejujuran itu penting, akhirnya gw memutuskan kalau kejujuran gw kagak bisa dibeli biarpun gw mupeng ke Manila. So bye bye..

Tahun 2013, gw ditawarin on job training di Thailand. Kali ini gw kagak sempet senyum-senyum, udah langsung mengkerut di kursi. Kenapa? 
Tentunya karena gw tahu kalau gw ga mungkin pergi karena gw sedang hamil.
Apalagi pas trimester 1 itu kehamilan gw mayan bikin senewen karena mual-mual ga keruan.
Biarpun berangkatnya pas trimester 2, tapi gw tau ga mungkin suami gw setuju, dan gw juga ogah membayangkan lagi hamil dengan perut membesar sendirian di negeri orang yang bahasanya pun gw ga mudeng. So bye bye..

Belum juga sampe gw kelar hamil, sekarang gantian gw ngedengerin orang-orang pada mo meeting besar di Batam (baca sebagai batu lompatan ke Singapore)
Ah? setelah bertahun-tahun gembor-gembor mo meeting besar di A, di B, di C, tapi ujung-ujungnya selalu balik ke gedung tercinta di Gatsu itu, sekarang mereka malah beneran berangkat ke Batam?
Tepok jidat lagi deh gw, secara gw kan lagi digrounded di Jakarta. So bye bye..

Nah....
sebenarnya yang lucu adalah ironi sang paspor yang miskin cap ini juga menular antara gw dan suami gw.
Jadi sebelum kita berdua officially barengan, dia juga tipe yang udah sempet mengisi paspornya.
Tapi begitu kita jadian (sampe sekarang nikah), rezeki buat mengisi cap di paspor langsung seret abis.

Dia ditawarin ke Swedia, tapi ga mau ngambil karena terlalu mepet sebelum nikah.
Dia ditawarin ke Italia, tapi ga mau ngambil karena terlalu mepet setelah hanimun.
Dia ditawarin ke Hanoi, terus ke Doha, tapi ga mau ninggalin gw yang lagi hamil muda.

Tau-tau, minggu lalu dia ditawarin ke San Jose.
Tapiiiiiii..... kok tanggalnya itu, minus 2 minggu sebelum HPL nya anak kita berdua.
Itu kan dah masuk masa siaga?
Emang sih acaranya cuman 3 hari, tapi klo tau-tau sang bayi dah pingin nongol, ga lucu bener gw lagi mulas-mulas mo lahiran sementara oknum satunya ada di benua seberang?
Atau misal kebalikan... ternyata gw lahiran sebelum dia berangkat, ntar ga lucu juga dia kelop-kelop di bandara sendirian membayangkan istri dan anaknya yang baru lahir...

Jadi... tampaknya cerita ironi sang paspor yang miskin cap ini masih akan berlanjut sampai entah kapan...^_^!

Kalau kata adik gw sih, itu pertanda kalau gw ama suami disuruh mencintai dalam negeri dulu sebelum jalan-jalan di luar.
Benarkah?

Waktu yang akan menjawab, hehehe...



Wednesday, October 9, 2013

Tenggelam dalam Informasi

Saat ini kita hidup di suatu era di mana gampang sekali mendapatkan aneka informasi.

Mau tau sesuatu? Tinggal tanya mbah Google, maka akan ada banyak sekali link menuju informasi yang ingin diketahui.

Tapi apakah memang semudah itu untuk mendapatkan informasi?

Menurut gw, justru saat ini lebih susah untuk mendapatkan informasi yang reliable.
Mengapa?
Soalnya banyak sekali orang-orang yang mencoba menganalisa/mereview sesuatu dari sisi orang awam. Susahnya, review dari sisi orang awam seringkali menghasilkan review yang subjektif, tidak lagi objektif.

Sebagai konsumen, gw sih bingung karena ada banyak sekali macam barang yang tersedia. Dari yang super murah sampai dengan super mahal, semua ada.
Dari yang kualitasnya entah kenapa bisa lolos seleksi sampai yang sudah super canggih sampai sudah bingung gimana cara makenya.

Tanya sana sini, mencari informasi, makin bingung karena kok banyak sekali pendapat.

Sebagai orang yang (ngakunya) kerja sebagai engineer, gw tau kok pentingnya memahami konsep dasar dalam proses dan sistem, tapi untuk aplikasi sehari-hari, terlalu banyak teori itu malah akan membuat mumet.

Jadi gampangnya, biasanya gw memfilter informasi seperti ini:

  • sumber teori -> artikel ilmiah akan lebih valid ketimbang review
  • siapa yang menulis artikel/review beserta karakter penulis: orang yang sotoy, hobi nakut-nakutin -> coret!
selebihnya... mari biarkan logika dan insting yang bekerja dan semoga gw ga kelelep duluan, hihihi...

Tuesday, October 1, 2013

How to: Mengkalkulasi Kebutuhan Lampu Suatu Ruangan

Mumpung saat ini gw lagi merenovasi rumah, gw berpikir untuk sekalian mengganti lampu-lampu yang ada dengan lampu LED.

Kebetulan jumlah titik lampu di rumah juga berubah, jadi kayaknya ini saat yang tepat untuk menghitung-hitung lagi.

Biasanya sih, kalau pas kita beli lampu, yang kita perhatikan itu Watt-nya.
Ga salah sih, karena konsumsi watt nya itu ntar bakal mempengaruhi tagihan listrik bulanan (or pulsa listrik buat yang prabayar).
Tapi jadi agak-agak kurang pas kalau watt nya itu yang dijadikan patokan untuk emisi cahaya.
Unit untuk emisi cahaya adalah lux.

Setiap lampu, baik pijar, CFL, LED, memiliki illuminence dengan unit satuan lumen alias lux x meter persegi.
Biasanya ketika kita membeli lampu CFL atau LED, di kemasannya tercantum keterangan seperti ini "sebanding dengan lampu pijar sekian watt".
Maknanya adalah lampu CFL atau LED itu memiliki jumlah lumen yang sama dengan lampu pijar.
Akan terlihat bahwa watt lampu CFL atau pun LED lebih kecil daripada watt yang diperlukan oleh lampu pijar dengan tingkat lumen yang sama.

Contoh cara membaca spesifikasi suatu lampu:

  • lampu LED keluaran produsen A 
    • Wattage: 8 W
    • Lumen: 400 lmn
  • lampu LED keluaran produsen B
    • Wattage: 9 W
    • Lumen: 600 lmn
  • lampu LED keluaran produsen B (tapi untuk market negara X)
    • Wattage: 7 W
    • Lumen: 600 lmn


lampu LED keluaran produsen B memiliki tingkatan lumen yang sama-sama 600 lmn, namun pemakaian daya listrik akan lebih hemat jika kita menggunakan yang memiliki wattage 7 W ketimbang 9W.
Sayangnya, tidak semua produsen mencantumkan secara eksplisit berapa lumen lampu yang mereka produksi. Pas terakhir gw cek di sebuah toko lampu, ada yang hanya mencantumkan kalimat "ekivalensi nya", kadang ada yang lengkap dengan lumen nya, kadang ada juga lumen/watt dan watt nya (artinya monggo hitung sendiri tuh itu berapa lumen, hehehe).

Informasi lain yang mungkin perlu diketahui adalah efisiensi luminous secara umum: (sumber: wikipedia)

Incandescent bulb: 12-18 lumens / watt
Halogen incandescent: 24 lumens / watt
Compact fluorescent: 45-75 lumens / watt
LED: 60-100+ lumens / watt

Terlihat bahwa tidak semua lampu LED lebih efisien daripada lampu CFL.

Setelah kita mengetahui spesifikasi lampu, sekarang saatnya melihat kebutuhan cahaya.
Masing-masing negara biasanya memiliki standar berapa lux yang dibutuhkan untuk suatu jenis ruangan.
Contoh untuk standar AUS: (sumber: Brightgreen.com )

Lux Level Standard (AU)

Step berikutnya adalah menghitung lumen yang dibutuhkan dengan rumusan:

lumen= lux x luas

Contoh: misal ada dapur berukuran 3 m x 3 m, maka lumen yang dibutuhkan: 160 x 3 x 3 = 1440 lumen
Jika misalnya yang dipergunakan adalah lampu dari produsen B (600 lumen), maka akan dibutuhkan 2-3 buah lampu.

Sebenarnya selain lumen ini, masih ada satuan satuan lain seperti CRI (colour rendering index), tapi tampaknya terlalu rumit untuk dibahas :)

Jadi sudah bisakah Anda menghitung berapa titik lampu dan jenis lampu yang akan dipasang?

Monday, September 23, 2013

Mobil Murah? *Tepok Jidat*

Beberapa hari ini, digulirkan wacana soal mobil murah di Indonesia.

Menurut saya ini adalah ide yang amat sangat teramat super duper bodoh (biarin lebay).

Dulu kebijakan pajak mobil progresif itu dibuat untuk tujuan apa sih?
Salah satu tujuan tersiratnya kan untuk mengurangi kemacetan bukan...?

Lah sekarang, dengan wacana mobil murah, itu bukannya akan membuat orang-orang yang tadinya belum mampu membeli mobil, (mungkin) jadi mampu membeli mobil?

Lihat itu di jalan, jumlah motor yang berkeliaran sudah sedemikian banyak. Padahal sekitar 10-20 tahun yang lalu, jumlahnya tidak sebanyak itu.

Sudah rahasia umum juga kan kalau dari sekian banyak pengguna kendaraan bermotor itu, berapa banyak sih yang memang benar-benar lulus ujian SIM?
Berapa banyak juga yang sebenarnya cukup berkepala dingin untuk membawa kendaraan?
Tidak cukupkah jumlah angry drivers yang berkeliaran di jalan saat ini?

Saya bukan orang yang gampang naik darah (percayalah, menurut kenalan saya, saya orang yang sangat berdarah dingin), tapi ketika berada di jalanan Jakarta, seringkali saya sudah di ambang batas untuk mengacungkan jari tengah saya *maaf*. Yang menahan saya untuk tidak mengacungkan jari tengah hanyalah karena saya tidak mau ikutan berlaku kurang ajar juga.

Balik ke persoalan mobil murah.

Rasanya sangat sempit ketika mengukur tingkat kemakmuran penduduk Indonesia hanya dari mampu/tidaknya seseorang membeli kendaraan.
Memangnya tingkat daya beli masyarakat diukur dari mobil?
Bukannya kebutuhan pokok manusia itu Sandang, Pangan, Papan? (atau pelajaran di SD sekarang udah berubah ya? Jangan-jangan udah jadi Sandang, Pangan, Papan, handphone, mobil, dan lain sebagainya)

Saya pribadi lebih bangga jika saya bisa memiliki rumah sendiri, tidak mengontrak, ketimbang bisa membeli mobil.

Masalah lain dari mobil murah adalah soal bensin subsidi.
Sekarang aja pemerintah dah empot-empotan membiayai bensin subsidi.
Emangnya konsumsi bensin mobil murah itu sudah diperhitungkan?
Ntar ujung-ujungnya, mari kita naikkan harga bensin karena pemerintah sudah tekor APBN nya, yang secara ga langsung berarti kenaikan aneka harga barang dan jasa lain (tidaaaaaaakkkkk!)
Baca itu sebagai kenaikan harga makanan (Pangan lho), harga material rumah (Papan lho).
Yang murah terus apa dong?
Mobil?
Kagak bisa dimakan cuy...
Bisa sih dipake buat tempat tidur. Tapi mo diparkir di mana itu si mobil murah kalau ga punya rumah? Di pinggir jalan? Menuh-menuhin jalan dong ntar. Ujung-ujungnya bikin jalan ga berfungsi maksimal, macet.
Kalau jalan dah macet berat terus ngapain punya mobil? Kagak bisa dipake ke mana-mana juga toh. Daripada frustasi di jalan, ya sudah diam di rumah (kalau punya).

Saya mengerti sih memang tidak semua orang beruntung bisa mendapatkan lokasi tempat tinggal yang dekat dengan tempat aktivitas sehari-harinya.
Tapi mobil murah bukanlah solusi jangka panjang.
Sediakanlah transportasi massal yang nyaman dengan harga terjangkau.
Niscaya itu akan jauh lebih bermanfaat.


Thursday, September 19, 2013

Gelap dan Terang

Terang tidak selalu berarti aman.
Gelap tidak selalu berarti tidak aman.

Jikalau tidak ada gelap, bagaimana kamu mengetahui adanya terang?
Jikalau tidak ada terang, bagaimana kamu mengetahui adanya gelap?

------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Dua kalimat yang terakhir itu sesuatu yang saya peroleh ketika membaca sebuah manga Jepang, Garasu no Kamen.
Menurut saya pribadi, kedua kalimat tersebut memiliki makna yang dalam.
Kadang kita melihat sesuatu hanya dari 1 sisi saja, yaitu dari sisi yang kita anggap paling benar.
Janganlah lupa kalau sisi yang kita anggap benar itu seringkali hanyalah sesuatu berdasarkan subjektivitas pribadi kita.
Cobalah melihat dari sisi yang berbeda.